Suatu minggu, Saya dan Ibu pergi ke pasar untuk menyiapkan menu makan malam yang cukup spesial. Malam ini rumah kami akan kedatangan saudara dari Kediri. Saat di pasar, Ibu berhenti di toko buah. Ibu memilih semangka dan meminta bantuan saya untuk memilihkan semangka dengan beban yang besar.
![]() |
| Sumber : tribunnews.com |
Saya menggunakan kedua tangan untuk mendapatkan semangka dengan beban yang lebih besar. Saat saya memilih 2 diantara semua semangka, saya yakin bahwa semangka yang berada di tangan kiri saya memiliki beban lebih besar daripada semangka di tangan kanan saya. Namun ketika ditimbang, justru semangka yang berada di tangan kanan saya memiliki beban lebih besar daripada yang di tangan kiri saya. Dalam hati saya, untunglah ini hanya semangka. Bagaimana jika hal ini terjadi pada seorang insinyur bangunan? Bagaimana jika insinyur tersebut tidak mengukur dengan alat ukur yang tepat? Alhasil bangunannya akan roboh dan merugikan banyak orang.
![]() |
| Sumber : hipwee |
Inilah pentingnya alat ukur dalam kehidupan kita. Alat ukur yang digunakan pun harus wajar dan tepat untuk digunakan mengukur suatu benda.
![]() |
| Sumber : Hanako Babyshop |
Alat ukur dibagi menjadi 2, yaitu alat ukur baku dan alat ukur tidak baku. Alat ukur baku merupakan alat ukur yang jika digunakan oleh semua orang untuk mengukur sesuatu, nilai yang di dapat akan sama besar. Sedangkan alat ukur tidak baku merupakan alat ukur yang yang hanya sebagian kecil orang akan memperoleh nilai yang sama jika digunakan mengukur.
Contoh alat ukur baku:
- Penggaris
- Jangka Sorong
- Termometer
- Neraca Beban
- Stopwatch
- dll
Contoh alat ukur tidak baku:
- Depa
- Jengkal
- Langkah
- dll



No comments:
Post a Comment